Sunday, July 16, 2017

Memperdalam Photo Retouching

Share & Comment
6 langkah penting dalam belajar dan mengembangkan Keahlian Retouching (Extended)

Kembali kita mengawali hari dengan membaca basmalah dan lalu beraktifitas seperti biasa dan seterusnya dan seterusnya. Kali ini kita akan sedikit mengembangkan materi kita sebelumnya mengenai dunia Photo Retouching menggunakan Photoshop yang sebenarnya sudah banyak kami bahas di blog ini namun baru belakangan ini kami beri ruang secara lebih khusus untuk mendalaminya, bisa dilihat pada postingan Belajar Photo Retouching yang pernah terbidani dengan baik di blog ini.

Extreme Photo Retouching by psholic

Photoshop merupakan software paling familiar dan lumayan banyak Tutorial pembelajaran mengenai hal-hal yang berkenaan dengan Editing dan Photo Rectouching seperti yang akan kita bahas berikut ini. Semoga saja penjelasan ringan dan tidak mendalam kali ini bisa sedikit membantu kisanak semua cepat dan mudah memahami dan yang terpenting tentu saja mudah mempraktekkan.

No male models are used and harmed here.

1. Baca Tutorial, lihat Video dan Jangan Percaya seluruhnya

Walau menjemukan dan agak menyakitkan bagi mata, tapi membaca memang memiliki sisi pentingnya tersendiri. Baca beberapa tutorial mengenai Photo Retouching, lalu catat beberapa hal penting, jika malas mencatat, bisa diingat per point. Lalu coba sendiri. Mungkin kita bukan tipe yang suka membaca, namun lebih masuk akal jika melihat langsung, gunakan youtube, apa ajja ada.

However, meskipun banyak di luar sana tutorial atau video bagus yang membahas mengenai banyak hal, tidak hanya retouch, banyak juga yang ancur dan tidak sesuai dengan judul yang dipasang. Bisa dimaklumi, namanya juga orang usaha. Tak mengapa. Tapi itulah mengapa kami tekankan untuk tidak mempercayai sepenuhnya pada apa yang kita baca atau lihat di video tersebut. Bahkan nantinya, bisa kami bilang untuk melupakan semua itu.

Sumber yang bagus untuk kita pelajari (di luar sana, red.) adalah resources yang bisa membawa kisanak semua meyelam lebih dalam ketika mempelajari sesuatu, bukan yang kecipak-kecipik di permukaan doang, Photo Retouching misalnya. Tidak melebar kemana-mana, tapi mendetil dan mendalam. Sumber yang bisa dikatakan hi-level (bisa dirasakan sendiri secara langsung ketika membaca atau melihat video yang bersangkutan, red.) tapi tidak membuat kita kehilangan basic atau dasar utama yang kita pelajari.

2. Perbanyak Latihan

Sejak menggawangi beberapa tutorial yang ada di blog ini maupun blog tetangga yang sudah lebih dulu terbang walau tidak seberapa jauh, kami banyak mengamati efek dan perbedaan mencolok yang bisa didapat dari karya hasil sulapan yang bersifat instan dan kurangnya latihan dari kita sebagai pengguna Photoshop.

Tanpa mengesampingkan masalah bakat maupun IQ seseorang, kisanak yang banyak melakukan latihan, trial and error terhadap skill Photoshopnya, akan lebih berisi dan bersinar hasil olahannya. Dengan banyaknya latihan yang kita lakukan, tentu saja memacu dan memobilisasi banyak tulang kecil yang ada pada tangan kita, yang penting tidak sampai berlebihan.

2.1. Belajar mendalam dan All Out

Sambil membaca, mempelajari apa yang hendak kita kuasai, buka catatan dalam kepala kisanak atau get involved secara langsung dengan mencoba langkah demi langkah dari yang sudah dibaca tadi. Jangan ada yang terlewat. Jangan pernah menghindar dari pelajaran dasar/basic. Tingkat Mahir itu merupakan kombinasi dari banyak pelajaran dasar yang kesemuanya dieksekusi dengan baik.

Mungkin banyak kita jumpai di luar sana, pembelajaran mengenai ini, namun sering kali karena pemilik blog atau tulisan tersebut sudah menganggap pembaca atau tamunya pinter-pinter, maka banyak detil yang terlewat dan tidak tersampaikan secara menyeluruh. Namun memang demikian lumrahnya.

Misalnya, pembelajaran mengenai Smudge Painting, tapi tidak kita temui penjelasan mengenai Tonal Correction di awalnya, atau penggunaan Pen Tool (P) jika pada beberapa step diperlukan dan banyak lagi contoh perintilan lainnya. So.. jika kita ingin menguasai sesuatu, pelajari dengan benar kesemua hal mendasar tersebut dengan hati yang riang gembira.

2.2. Mengenal Alat Tempur

Banyak sekali tools yang sebenarnya bisa kita temui pada Photoshop, namun dari sekian banyaknya barangkali hanya beberapa yang kita pergunakan the most. Tak bisa disalahkan juga karena memang kebutuhan tiap orang memang berbeda, namun ada baiknya kita benar-benar mulai memperhatikan dan menganggap bahwa pengenalan tiap tool dan kegunaannya bisa kita kuasai dengan baik.

Tidak perduli dengan bagaimana kita men-setting Brush (B) kita misalnya, selama kita bisa memanfaatkannya secara konsisten dan maksimal, totally aware terhadap apa yang terjadi di lapangan akibat dari alat pilihan dan settingan kita tadi. Kekonsistenan inilah yang akan mendekatkan kita pada pengenalan yang lebih baik terhadap tool atau alutsista kita tersebut, walhasil.. karakterpun bisa kita peroleh.

Dengan mengenal alat tempur kita, maka perlahan kita akan mengetahui dimana tingkat kita berada. Pemula kah dan seterusnya, juga kita tahu persis kapan kita perlu mengerjakannya dengan cepat atau alon-alon asal kelakon. Tidak hanya Brush saja, melainkan juga yang lain, seperti Dodge, Burn, Lasso, Clone dan sebagainya. Time will tell you kapan seharusnya kita berhenti, atau lenjut pada job berikutnya.


3. Cintai Seni sebagai Observer

Perhatikan banyak hal, terutama manusia. Karena manusia merupakan objek yang sangat menarik untuk diperhatikan. Tidak hanya secara keseluruhan si anu baik si anu bengal, namun lebih mendetil lagi pada bagian-bagian tertentu. Dekati tukang cukur, kita bisa langsung melihat banyak perbedaan rambut seseorang secara lebih close-up dari sebelumnya. Dekati para pekerja seni meni-pedi, supaya kita bisa secara langsung melihat banyak perbedaan kuku dari tiap objek yang kita lihat.

Hidung, telinga, bibir, gigi dan lain sebagainya, terutama mata. Mata adalah bagian terkompleks dari manusia yang bisa kita lihat secara langsung. Amati semua perbedaan yang ada tersebut dengan rasa cinta yang menggelora di dada. Niscaya hal tersebut akan menambah insight yang sangat mengena yang nantinya bisa kita tuangkan kembali dalam karya retouch kita atau ketika kita mengolah sebuah foto dan seterusnya dan sebagainya.

My point is, jika kita tidak menghabiskan hidup kita mengeksplor dunia secara visual, lalu kisanak belajar retouch, dan hanya mengandalkan internet sebagai acuan, walhasil akan sedikit timpang. Oleh karena itulah maka.. Go out there! I mean get out for the real deal! Hurry up! Bumi itu bulat, dan tidak flat -seperti yang sedang hangat diperdebatkan- layaknya layar PC kisanak. Temui 3D yang nyata di luaran sana, pelajari tata cahayanya tiap kali kita perhatikan dari tiap sisi yang berbeda. Pengalaman langsung seperti ini akan lebih mengangkat kisanak semua menjadi a better real retoucher.

4. Bicara pada Diri sendiri

OK, I know this sounds weird. Bahkan sudah kami lakukan sejak pembuatan karya-karya awal kami ketika masih dalam euphoria Hard Smudge Painting beberapa dekade lalu, dengan tokoh Dalai Lama. Dengan cara berbicara secara jujur terhadap diri sendiri baik di depan tokoh yang sedang kita kerjakan atau ketika kita mengambil waktu rehat barang sebentar, kita akan selalu dapat menilai dengan sendirinya mana yang baik dan mana yang kurang pas sambil mendeskripsikan keduanya secara simultan.

Sambil terus menyuarakan apa yang kita inginkan dari karya di depan kita tersebut tanpa harus menggunakan pengeras suara yang biasa dipergunakan oleh Musholla desa sebelah, dan tetap bisa legowo manakala ada yang melihat dan mencap kita harus masuk asylum secara permanen, kisanak akan menyadari bahwa semua menjadi lebih smooth. Kerjaan lebih terasa ringan padahal pergelangan tangan sudah teramat perih dikarenakan terlalu lama beraksi tanpa kita sadari.

Cara ini melatih kita untuk legowo melihat objek dari berbagai sisi yang sebelumnya mungkin belum pernah sama sekali kita sentuh. Dari situ, bahkan hal ini mampu men-drive kita, bersikap di depan klien. Ckckck.. Maafkan jikalau pembahasan mulai melebar dan seperti tiada juntrungannya ini. Mbok ea di woco wae.. sing fenting asoy! Masalah benar atau tidaknya, nomer sekian.

5. Satu Gambar

Tiap gambar itu berbeda satu sama lain, walaupun merupakan satu serie. Artinya, trik yang kita pergunakan pada sebuah foto atau gambar mungkin tidak akan berhasil pada gambar atau foto lainnya. Retouch sebuah foto memiliki banyak sekali teknik yang dapat kita terapkan. Boleh saja kita mempelajari sebuah teknik pada sebuah foto, tapi jangan berharap kita bisa menerapkannya pada foto lainnya. Oleh karena itu diperlukan banyak latihan pada banyak objek atau foto.

Bayangkan bahwa tiap kulit itu sangatlah berbeda pada diri tiap orang. Bayangkan bahwa tiap ketajaman rambut, pencahayaan sebuah foto.. Bayangkan rupa seorang selebriti. Bayangkan penampakan orang tua kita pada sebuah foto. Laki-laki dan perempuan di sebuah halte bus di pagi buta hendak berangkat ke tempat kerja masing-masing. Seorang anak kecil, bayi, laki-laki atau perempuan. Apakah kisanak akan menerapkan teknik Retouch pada semua foto mereka dengan cara dan perlakuan yang sama?

6. Sejuta Tahun

Para ortu yang memiliki anak gadis mestinya mengerti sekaligus mensupport hal ini, bhahaha.. karena dengan diberikannya kesempatan pada anak muda belia seperti mereka, lebih terdorong untuk mengeluarkan sisi super-model dalam diri mereka dengan sedikit tweaks pada hidung, ukuran bibir, mata dan lain sebagainya dari biasa saja menjadi sesuatu yang baru.. ckckck.. gag om! Gag.. cuma becanda!

Agan/Sis benar-benar ingin menguasai Photo Retouching? Wokeh.. gini resepnya; latihan selama 10 ribu tahun! That is it. Asli ini sama sekali tidak bercanda. Karena seorang Master sekalipun harusnya akan merasa bahwa dia bukanlah seorang Master, dia akan terus merasa 'terus berlatih' jika kebetulan ada yang bertanya secara langsung kepadanya. Masuk akal?

Pokoknya begini, buat tiap detik latihan kita tersebut count well dan terlebih lagi, you love what you do ketika kisanak semua melakukan latihan demi latihan yang menyakitkan tersebut. Jangan memaksakan mengolah foto atau gambar yang memang tidak pantas kita olah (untuk ini nanti akan ada pembahasannya tersendiri, red.).

And by the way, kami sendiripun masih terus menggali dan mempelajari terutama ide-ide baru berkenaan dan bersinggungan dengan Photoshop ini setelah melampaui 2 juta tahun bahkan lebih (bahkan sudah tak terhitung lagi, red.) penggodokan yang bersimbah keringat di sekujur tubuh. Kita bisa memperoleh 5 hal baru dari yang kita pelajari saat ini, lalu tiba-tiba muncul 10 hal baru lagi.. dan seterusnya. So tell me.. cukupkah sejuta tahun?


Tags: , , , , , , , , , , ,

Written by

Hanya menjalani lakon yang diberikan Sang Penguasa Semesta. Semoga apa yang ditulis di sini bisa sedikitnya memberikan manfaat tuk kita semua.

A single dot with a single line that inspires feelings, love and cares, emotions, and statements. Kudos!

2 comments:

  1. Sejuta tahun... Yups. Sejuata taon.. saya suka kata itu (semoga adalah, ya semoga adalah....)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bhahaha dia sampe juga dimari ckckck (Y) suwun selalu kang mas'e..

      Delete

Kamu tetap produktif dan kreatif bahkan dalam keadaan stress sekalipun?

 

Photoshop Icon

Holic Posts

Follow by Email

Why to Choose PSHolic?

PSholic terbagi menjadi 3 bagian penting yang harus bisa dieksplor secara keseluruhan dan bukan bagian perbagian. Photoshop Pemula... Photoshop Menengah... Photoshop Mahir... Enjoy!
Copyright © Belajar Photoshop | Designed by Templateism.com